Karya: HASYIR AHMAD
Di antara riuh dunia yang tak pernah usai,
ada doa yang diam-diam kita titipkan kepada langit—
bukan agar takdir lekas berpihak,
melainkan agar dua hati yang berbeda arah
tak lupa mengenali jalan pulang yang sama.
Barangkali jarak hanyalah sungai
yang mengajarkan rindu menempuh sabar;
sebab namamu tak pernah benar-benar jauh,
ia menjelma aksara lirih di ujung sujud,
tempat resah perlahan belajar menjadi teduh.
Kita mungkin tak selalu memandang cakrawala
dari jendela yang sama,
namun pada malam yang serupa,
ada dua tangan yang terangkat dalam hening,
mengirim harap ke langit yang sama.
Jika kelak waktu mengubah banyak hal,
semoga setia tak ikut kehilangan arah.
Aku tak meminta langkahmu selalu menuju kepadaku—
cukup Tuhan menjaga setiap jejakmu,
sementara aku tetap menyimpan namamu
di antara doa-doa yang tak pernah selesai.
Sebab takdir adalah kitab
yang tak kita tahu di halaman mana nama kita diletakkan.
Kita hanya dua aksara yang sedang menunggu makna,
membiarkan kehendak-Nya menjadi tinta,
dan waktu menjadi tangan yang perlahan menuliskannya.
Maka biarlah sungai kita mengalir
sejauh apa pun jalan yang dipilihkan musim.
Aku tak perlu tahu di mana akhirnya kita berlabuh;
sebab selama doa masih menemukan namamu,
dan hatiku masih mengenali arah pulang,
barangkali kita sedang menuju hilir
yang dirahasiakan takdir.
Jambi, 29 Juli 2026