Sujud yang Patah
Karya: Ivonne Airenne MarkusKita adalah sepasang peziarah
yang menempuh jalan berbeda,
melipat jemari dengan cara yang tak sama
di hadapan semesta.
Mengapa ruang cinta kita
selalu terasa teduh di balik pintu sepi,
sementara di luar sana,
sekat prasangka siap menghakimi?
Lilin-lilin kecil itu meredup
di altar sunyimu,
saksi bisu saat rindu kami
berdarah membentur tembok haram.
Kubah memanggil dengan azan,
salib berbisik dalam doa,
tapi manusia merakit tembok
dari kitab yang mereka tafsir sendiri.
Kita berlari menelan malam,
mengetuk langit dengan kening retak,
menukar nama dengan air mata,
menjahit harapan di setiap sujud yang patah.
Sekarang kaki ini berhenti
di ujung jalan tanpa nama,
menyerah pada garis
yang bahkan Tuhan tak pernah buat.
Akhirnya pilihanku untuk pulang,
membiarkan cinta ini dikafani sepi,
merelakannya mati pelan-pelan,
di pangkuan lelah yang tak pernah diampuni.
Yogyakarta, 20 Agustus 2026