Kartografi Dua Doa
Karya: Latifa KhiraniSejak awal,
angin telah membagi langit
menjadi empat penjuru.
Kau tumbuh di bawah utara,
sementara langkahku
diam-diam menghafal selatan.
Suatu petang,
kompas tua di tanganku menggigil.
Jarumnya berputar,
hendak membelah bumi
mencari celah di antara dua doa.
Kubalik dunia,
kutukar timur dengan barat,
kugeser batas peta,
namun jarum itu
tetap keras kepala menunjukmu.
“Ke mana?”
tanya angin.
Cakrawala membuka jahitannya,
sekejap dunia mungkin,
lalu menutup kembali
sebelum sempat kita tiba.
Aneh,
semakin jauh utara,
semakin dekat namamu tumbuh di selatan.
Barangkali begitulah rindu:
ia membuat jarak terasa seperti rumah.
Malam melipat peta.
Aku mencabut jarum itu,
meninggalkan satu lubang
yang tak lagi tahu arah.
Lalu aku pulang
bukan karena jarum berhenti menunjukmu,
melainkan karena kakiku tahu:
ada arah yang hanya boleh
tinggal sebagai utara.
Jambi, 29 Agustus 2026