Maulidina Harnita - Amorti Dua Cawan (LCP 48)

📅 07 أغسطس
Dibaca: Memuat...

Amorti Dua Cawan

Karya: Maulidina Harnita



Kita ditakdirkan lahir dari dua tanah yang saling menolak,
berdiri di atas sekat purba yang tak mungkin retak.
Engkau datang membawa embun lewat "Assalamu'alaikum" yang suci,
kusambut dengan "Shalom" bagai gema dari gua sunyi.
Dua salam itu patah di udara sebelum sempat bersentuhan,
menjadi abu di atas altar keputusasaan.

Kitabmu aksara cahaya yang tak bisa kubaca,
hukumku pahatan batu yang melukai jemarimu.
Aku memeluk salib, memanjat sepi ke puncak bukit gersang,
engkau bersujud menyentuh bumi, melarung ego yang hilang.
Kita meraba dinding yang sama dalam gelap yang pekat,
dua hamba merindukan Tuhan, namun dikutuk syariat.

Hati ini tak pernah memilih untuk tenggelam,
ia jatuh saja ke palungmu yang kelam.
Sanggupkah kita merawat luka tanpa saling menuntut korban?
Menyalakan dua persembahan di satu mezbah kehancuran?

Sebab tangan yang merajut nyawa kita adalah tangan yang sama,
namun Ia menggambar dua peta berbeda bagi kita.
Haruskah aku meminum racun asmara ini hingga habis,
menjaga api tetap menyala meski iman teriris,
atau memadamkan bara di dada, bersujud pada-Nya dengan hati menangis?


Lombok Barat, 5 Agustus 2026