Dibaca: Memuat...
Satu Langit, Berbeda Arah
Karya: Muh. Syahrul ArifDi penghujung malam,
dua jemari bersilang di bawah atap doa yang tak pernah menyatu.
Kita adalah dua sujud yang meraba asmaraloka,
mengeja rindu di antara gema lonceng dan seruan azan.
Aku menyebut nama-Nya dengan lirih,
sementara matamu mendongak menatap niskala yang sama,
namun menempuh jalan tak serupa.
Cinta ini bertumbuh manis,
tetapi menancapkan duri takdir paling sembilu.
Kita saling menggenggam rasa,
meski sadar dinding swargaloka memisah arah.
Sebab iman tak sama menjadi tembok niskala
yang melarang bibirku mengaminkan harapanmu.
Kita mengagumi Sang Pencipta yang sama,
tetapi harus sadrah memeluk perpisahan paling sunyi.
Sebab di balik keagungan-Nya,
kita terpaksa merelakan kisah ini usai tanpa jeda.
Kini biarlah takdir melukis jejak langkah kita yang saling menjauh,
membawa perih bayangmu dalam balutan doa yang abadi.
Wajo, 11 Agustus 2026