Kuburan Mimpi
Karya: Rahmah WalidainiTuhan...
Malam telah terlalu lama mengunyah cahaya
hingga langit lupa bagaimana cara menjadi fajar.
Kami berdiri di atas makam-makam harapan,
menghitung nisan yang bahkan tak sempat diberi nama.
Setiap dada adalah rumah bagi perang
yang tak pernah selesai.
Setiap mata adalah kuburan bagi mimpi yang mati sebelum sempat dilahirkan.
Lalu doa lahir bukan dari keyakinan,
melainkan dari putus asa yang sudah kehabisan air mata.
Doa yang gemetar, berlumur debu, berbau darah, dan mengangkut jerit yang tak sanggup diucapkan bibir.
Aneh...
di saat dunia sibuk membangun tembok,
doa justru menggali liang agar ego dikuburkan
bersama kesombongan manusia.
Kami tak lagi memohon agar luka dihapus.
Kami hanya memintaagar luka-luka itu
menjadi jalan untuk saling menemukan.
Sebab barangkali, yang benar-benar menyatukan manusia bukan cinta yang selalu dirayakan, melainkan duka yang memaksa setiap kepala menunduk pada langit yang sama.
Dan bila esok tak pernah benar-benar datang,
biarlah doa terakhir kami berkumpul di antara gelap
menjadi satu cahaya kecil yang tak mampu mengusir malam, namun cukup agar kami tahu bahwa kami tidak binasa sendirian.
Medan, 9 Agustus 2026