Di Ujung Persimpangan Iman
Karya: Siti Arandita MagfirohDi bawah bumantala yang membisu,
dua atma belajar mengeja asmaraloka,
menemukan rumah pada binar matamu,
namun terbentang jurang yang tak bersuara.
Aku menadah jemari di atas sajadah,
kau menangkup doa di hadapan Altar,
kita adalah dua bisikan yang indah,
namun berlayar ke samudera yang memencar.
Agni cinta ini membakar telanjang,
memeluk hangat dinginnya malam,
namun renjana kita menolak tunduk pada terang,
terhalang benteng dogmatis yang teramat dalam.
Lonceng gereja merayu senja,
suara azan memanggil pasrah,
air pembaptisanmu bersaksi sunyi,
air wudhuku membasuh luruhnya anindya.
Kita adalah perjumpaan yang swastamita, bisikmu,
sebuah keindahan yang mekar lalu tenggelam.
Kau terlalu Alhamdulillah untuk langkahku,
dan aku terlalu Puji Tuhan dalam diam.
Bila Gereja dan Masjid bisa berdampingan mesra,
mengapa kalung salib dan tasbih kita saling berbelas kasih?
Sebab Waalaikumsalam tak kan pernah bermuara,
pada Shalom yang kau ucap dengan perih.
Biarlah cinta kita menjadi lengkara—
sesuatu yang mustahil, namun abadi.
Aku melepaskanmu dalam nirwana diksiku,
tempat di mana iman tak lagi melukai hati.
08 Agustus 2026