Dibaca: Memuat...
Doa yang Tak Mengenal JarakKarya: Wais Yusuf Nayottama
Tik-tak jam dinding berjalan pelan,
kipas berputar, mengusir gerah malam.
Aku baru selesai tahajud,
ketika rumah masih diam.
Aku belum beranjak dari sajadah,
kedua tangan terangkat perlahan.
Kusebut nama Ayah dan Ibu,
dalam doa yang sederhana.
Tidak banyak yang kuminta malam itu,
hanya sehat untuk mereka,
panjang umur dalam kebaikan,
dan hati yang selalu tenang.
Kadang aku takut kehilangan,
saat kulihat rambut mereka mulai putih,
maka sebelum waktu membawa jarak,
ingin kutunjukkan bahwa aku berhasil.
Mungkin di rumah lain,
ada seseorang yang masih terjaga,
menyebut nama yang ia sayangi,
dalam doa yang menyatukan.
Selesai berdoa, dadaku terasa lapang,
entah kenapa kekhawatiran tadi
terasa sedikit lebih ringan.
Bekasi, 26 Agustus 2026