Ahmadi Wahidan alqiro - Merawat Bayang yang Tertinggal (LCP 49)

📅 26 September
Merawat Bayang yang Tertinggal
Karya: Ahmadi Wahidan alqiro


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh
Kata kata pengantar
Ada cerita yang tak selesai, namun terlalu indah untuk dilupakan. Puisi ini ditulis sebagai wadah bagi rindu yang bermalam, menjaga bayang yang tertinggal agar terus hidup di antara lipatan waktu

Sebuah Nama di Lembar-Lembar Kusam
Di sudut kamar yang makin temaram dan berdebu,
tersimpan kotak kayu lapuk pemakan waktu.
Di dalamnya, helai-helai foto kusam membisu,
menjadi saksi bisu tentang cerita kita yang dulu.
Aku mengeja kembali tawa yang pernah benderang,
saat sore memerah dan senja enggan untuk pulang.
Langkah-langkah kecil kita di atas tanah yang basah,
kini menjelma bayang yang kerap buatku mendesah.
Setiap sudut kota menyimpan jejak yang tak kasat mata,
bangku taman, aroma hujan, dan percakapan tanpa jeda.
Kita pernah berjanji melintasi dunia bersama-sama,
sebelum akhirnya dipisahkan oleh arah yang berbeda.
Ada masa ketika namamu adalah tempatku pulang,
tempat berteduh saat angin malam terasa garang.
Namun roda takdir berputar tanpa sempat bertanya,
mengubah riak kehangatan menjadi bentangan jarak semata.
Gelas kopi yang dingin di atas meja kayu tua,
seakan mengulang percakapan yang pernah ada.
Suaramu masih terngiang halus di sela dedaunan,
menyelusip pelan di antara rentetan bisikan angin malam.
Kini waktu terus berjalan cepat tanpa pernah menoleh,
meninggalkan kenangan indah yang tak lagi bisa kuperoleh.
Namun di tiap relung sunyi yang datang menyapa hari,
bayangmu dan kenangan itu akan selalu abadi di sini.
Biarlah rindu ini bermalam dalam bait-bait puisi,
menjaga tiap detik yang pernah nyata dan berarti.
Sebab meski raga kita kini berjalan tak lagi sejajar,
kenangan tentangmu adalah hangat yang takkan pernah pudar.



Jambi, 23 September 2026