Resi Waktu Yang Hangus
Karya: Alif AdityaDi sudut kamar ini, kebisuan menampar lebih keras dari badai.
Ada harga mahal untuk sebuah gengsi yang tak sudi berlutut.
Dulu, aku merajut tembok baja untuk melindungiku dari lukamu,
namun tembok itu pula yang mengurungku bersama gema suaramu yang perlahan mati.
Kini, di hadapan nisan yang memeluk erat namamu,
aku membawa sekeranjang kata maaf yang sudah membusuk ditelan kalender.
Air mata takkan pernah bisa menyuap takdir untuk memutar mundur jarum jam.
Sebuah penyesalan adalah resi waktu yang hangus;
kau tahu persis berapa nominal yang harus dibayar,
namun loketnya telah tertutup rapat untuk selamanya.
Aku tertinggal sendirian di sini,
menjadi tawanan seumur hidup dari kata-kata yang tak sempat terucap.
Jambi, 24 September 2026