Kuberi Pisau Pada Tangan Yang Sama
Karya: Dian SwastikaKami menikah dari sebuah salah.
Bukan cinta yang tumbuh.
Saat anak pertama berdenyut di rahim.
Kau menanam rahasia kelam.
Kukira rumah itu teduh.
Nyatanya hanya tempat menyimpan badai.
Kau pulang dengan senyum kebohongan.
Sementara hatimu tertinggal di tempat lain.
Aku pernah meminta akhir.
Perceraian adalah pintu yang pernah kuusulkan.
Kau menahanku dengan janji manis.
Dan aku langsung terbuai.
Sebab perempuan sering menjadikan harapan sebagai selimut luka.
Kuberi kesempatan lagi dan.lagi.
Tanpa henti terus percaya.
Namun khianat itu kembali.
Seperti hujan yang tak pernah reda.
Mengaliri tanah yang mulai retak.
Penyesalan datang terlambat.
Tangisku tak pernah usai.
Hatiku terhujam berkali-kali.
Karena kuberi pisau pada tangan yang sama.
Dari luka aku belajar.
Memaafkan bukan berarti kalah.
Menjaga diri adalah keharusan.
Kesetiaan bukan belenggu.
Dan cinta yang terus melukai.
Bukan rumah untuk pulang selamanya.
Kediri, 29 September 2026