Doa Terakhir untuk Kita
Karya: Naila JasmineAku pernah percaya, cinta itu sesederhana memilih siapa yang ingin kupeluk lebih lama.
Nyatanya, hati manusia sering kali masih menyimpan reruntuhan yang belum sempat ia ratapi tuntas...
dan kau datang justru saat reruntuhan itu masih berdebu, masih hangat bekas kebakarannya.
Kau begitu baik, sampai kebaikanmu terasa seperti cermin yang memantulkan segala hal yang belum selesai kubereskan dalam diriku sendiri.
Kau menawarkan pelukan yang tulus, sementara aku masih diam-diam menoleh ke arah bayangan yang seharusnya sudah kutinggalkan di persimpangan waktu.
Aku menyesal, bukan karena mencintaimu adalah kesalahan,
melainkan karena aku mencintaimu dengan hati yang belum sepenuhnya kosong dari orang lain...
hati yang masih menyisakan sudut gelap, tempat aku diam-diam kembali bermain api dengan kenangan lama,
sementara kau, dengan segala kejujuranmu, berdiri di terang, menunggu aku untuk sepenuhnya datang.
Aku memutuskanmu bukan karena aku berhenti sayang.
Aku memutuskanmu karena aku terlalu pengecut untuk berkata jujur bahwa aku belum benar-benar sembuh,
dan aku tidak sanggup membiarkan lukamu bertambah karena separuh hatiku yang masih berkelana ke masa lalu.
Kini, penyesalan itu tumbuh jadi lumut di setiap sudut ingatan...
lembap, diam-diam menjalar, tak pernah benar-benar bisa dikeruk habis walau kucoba mengeringkannya dengan waktu.
Aku bahkan merasa bersalah setiap kali hatiku mulai berani mencintai orang lain lagi,
seolah mencintai adalah pengkhianatan pada rasa bersalah yang telah kupelihara terlalu lama untukmu.
Tapi jika penyesalan ini punya satu doa yang layak kupanjatkan,
biarlah itu bukan doa untuk kembali,
melainkan doa agar kau menemukan seseorang yang mencintaimu dengan hati yang utuh sejak awal...
tanpa sisa reruntuhan, tanpa bayang-bayang masa lalu yang menyelinap diam-diam di setiap pelukannya.
Biarlah aku menanggung sendiri sesalku ini, sebagai harga yang pantas kubayar
atas kebaikan yang pernah kausodorkan dengan tulus, namun tak sanggup kuterima dengan utuh.
Semoga kau bahagia, dengan cara yang tidak pernah bisa kuberikan.
Yogyakarta, 18 September 2026