Kenangan dari Rumah yang Pernah Utuh
Karya: Nurmalita Selsi Ramadhani HakimDulu, rumah itu serupa semesta kecil
yang tak pernah gagal menjadi teduh.
Di sana, tawa tumbuh bersama langkah kecilku,
dan waktu begitu murah hati
menghadiahkan sore-sore sederhana
makan bersama, bercanda,
lalu pulang kepada pelukan yang sama.
Namun, waktu pandai mengubah musim.
Tawa perlahan menjelma riuh yang melukai,
dan aku, yang seharusnya hanya belajar tumbuh,
justru menjadi jembatan bagi dua hati
yang kian kehilangan arah pulang.
Lukaku sendiri belajar menjadi bisu,
sebab tak tahu kepada siapa harus bersandar.
Kini, rumah itu masih berdiri,
namun teduhnya telah lama pergi.
Aku menepi di tanah perantauan,
membawa pulang hanya serpihan kenangan.
Ah, rumahku…
jika kelak waktu mengizinkan,
biarkan aku sekali saja kembali
bukan untuk menetap,
melainkan untuk memeluk masa kecilku
yang tertinggal di balik pintumu.
Purwokerto, 19 September 2026