Anatomi Sunyi dan Sebutir Sesal
Karya: Repa agustiaatas Retaknya Hubungan/Sosial (Gaya Metaforis-Imasiner)
Anatomi Sunyi dan Sebutir Sesal
Kutemukan sebutir masa lalu di lipatan memori,warnanya pekat, beraroma pekatnya sisa sepi.
Ia adalah prasasti dari hari-hari yang kuhabiskan dengan tuli,
saat ketulusan orang lain kuanggap angin yang tak berarti.
Dahulu, jemariku begitu mahir merajut jarak,membiarkan kehangatan perlahan-lahan koyak.Kusangka meminta maaf adalah tanda dari kekalahan.
maka kupelihara gengsi hingga menjadi dinding pemisah di hadapan.
Lihatlah sekarang, rumah ingatan ini begitu lengang,
Hanya ada gema dari tawa yang telah lama hilang.
Aku mencoba mengetuk pintu maaf yang telah berdebu,namun kuncinya telah patah di tangan waktu.
Air mata yang jatuh bukan lagi sekadar luapan duka,
melainkan ritual basuhan bagi mata batin yang sempat buta,
Sebab hukuman terberat dari sebuah kesalahan besar,
bukanlah amarah orang lain, melainkan batin sendiri yang bertengkar,
Biar kupeluk rasa perih ini sebagai penawar yang pahit.
mengikis perlahan keangkuhan yang pernah melangit,
Sebab melangkah maju dengan jiwa yang tahu diri,
jauh lebih mulia daripada hidup dalam kepalsuan tirani.
15 september 2026