Anatomi Sesal di Ujung Lidah
Karya: Salamah Nur AlyaDulu, jemari kita berpagut erat pada waktu.
Bagaikan ombak dan pantai yang tak pernah jemu.
Dua jiwa yang melangkah di jalan yang satu.
Mengikat janji, bersumpah takkan saling melupa.
Namun, musim berganti dan badai pun tiba.
Saat kau eja sebaris rasa yang tak semestinya.
Seketika, fondasi kita retak menyisakan luka.
Sebab hatiku, telah tertambat pada cinta yang berbeda.
Tapi badai itu belum seberapa.
Dibanding tajamnya lisan yang tak sengaja menyayat dada.
Oh Tuhan... kini sesal merayap di sela sukma.
Kataku yang mati rasa, telah merenggut ia dari dekapanku.
Kini sepi meraja, menyisakan tanya yang tak terjawab.
Wahai sahabatku, aku minta maaf.
Aku merindukanmu, wahai sahabat yang terlanjur menjauh.
Penajam Paser Utara, 18 September 2026