Liturgi Abu pada Altar Waktu
Karya: Sifa MaulidaDi ceruk dada yang luruh, malam mengkristal jadi angkur,
mengunci sekoci raga, karam sebelum sempat bertutur.
Kutukar seberkas pijar dengan sekeranjang sunyi yang purba,
meniup angin sembrono, menuai badai yang meraba-raba.
Kemarin adalah kitab yang kutulis dengan tinta buta,
di mana jemari dengan angkuh menghapus tanda baca.
Kini huruf-huruf itu bangkit sebagai belati,
menuntut tebusan atas waktu yang telanjur mati.
Bagaimana hendak membasuh bayang yang telanjur legam?
Sedang air mata hanyalah telaga tanpa dasar yang lebam.
Aku terjebak di batas tipis antara ingatan dan ketiadaan,
mengecap getir buah khilaf yang kupetik dalam kesesatan.
Di pelataran sunyi ini, aku hanyalah hening yang paling nyaring,
meratapi sisa bara yang kini melahirkan abu dingin.
Waktu tak pernah menoleh pada langkah yang tertinggal,
ia merayap bisu, meninggalkanku sendiri berselimut sesal.
Balangan, 27 September 2026