SEBELUM TANAH MENUTUP NAMAMU
Karya: STENLY MINTIIbu,
dulu aku selalu berkata,
“Sebentar lagi aku pulang.”
Kau tersenyum,
meski mungkin kau tahu
“sebentar” sering kali berarti
aku memilih dunia daripada dirimu.
Aku mengejar mimpi,
sementara kau mengejar usia.
Aku sibuk menghitung hari menuju keberhasilan,
sedang diam-diam kau menghitung
hari yang tersisa untuk menungguku.
Sampai suatu sore,
aku pulang membawa kabar bahagia—
namun tak menemukanmu di pintu.
Hanya kursi kosong,
selendangmu,
dan namamu yang terukir
di atas tanah basah.
Sejak itu aku mengerti:
penyesalan paling menyakitkan
bukan ketika kehilangan seseorang,
melainkan ketika sadar
kita pernah memiliki waktu untuk mencintainya,
tetapi memilih berkata,
“Nanti saja.”
Kini aku hanya punya doa
untuk seseorang yang tak mungkin lagi
mendengar kata “Ibu”
dari bibirku.
Ampana,24 September 2026