"SEPIRING NASI DAN SEJUMLAH YANG PERGI"
Karya: TRISNA LATIFFAH MAHARANI NURAda tempat-tempat yang menolak lupa,
meski cat dindingnya telah lama mengelupas.
Meja kayu di sudut ruangan itu, misalnya,
masih menyimpan bekas lingkar gelas
dan riak tawa yang tak sempat genap.
Kita pernah percaya
apa yang kita genggam hari ini
akan bertahan setidaknya sampai esok pagi.
Namun waktu bekerja seperti rayap,
perlahan, diam-diam, tanpa ketukan pintu.
Ia tidak mengambil apa-apa dengan paksa,
ia hanya membiarkan yang tersisa
menjadi dingin di atas piring.
Hari ini aku kembali ke meja itu.
Menatap kursi kosong di seberang,
mencoba mengingat bentuk suaramu
di antara desis minyak dan riuh jalan raya.
Ternyata, kenangan tidak pernah meremukkan tulang.
Ia hanya datang sebagai hening yang terlalu panjang di tengah-tengah kunyahan.
Bukan rasa sakit yang membuat dada ini sempit,
melainkan kenyataan sederhananya,
bahwa kita pernah betul-betul ada di sana,
dan kini, hanya aku yang menyelesaikannya.
Takalar,29 September 2026