Pilar yang Tak Kasat Mata
Karya: Wildayatul MaulidaPilar tak kasat mata
Meski sekokoh batuan tebing di dalam dada
Manusia tak ubahnya mega di langit hampa
Ketika beban terlampau berat mendera
Runtuhlah ia, menumpahkan segala lara
Setiap jiwa akrab dengan air mata
Di tengah riuh buana atau sunyi yang buta
Rintik hujan yang membasahi bumi malam
Sering kali menjadi cermin duka yang teramat dalam
Luas pesisir membentang sejauh cakrawala
Tanpa batas yang sanggup dieja netra
Namun pandangan manusia teramat fana
Takkan mampu merengkuh ujung semesta
Pahitnya jatuh adalah sebuah ketukan
Agar tak menggantungkan harap pada manusia
Jangan sandarkan rapuhmu pada sesama
Namun bersujudlah, pasrahkan jiwa pada Tuhan Yang Esa
Semilir bayu membawa napas kehidupan
Meniup roh pada raga dan tanaman
Air mengalir tenang namun sanggup menenggelamkan
Samudra megah menyimpan rahasia tak terbayangkan
Burung dara terbang tinggi memeluk angkasa
Tetap tak luput dari takdir jatuh menapak tanah
Api yang membakar tetap dicari saat dingin menyiksa
Seperti cinta, yang selalu butuh ruang untuk bersandar
Namun ketahuilah, cinta hanyalah fondasi yang rapuh
Ia mudah retak, membuat seluruh impian luluh
Tanpa tiang komitmen yang berdiri dengan kukuh
Mahligai indah itu akan goyah lalu runtuh
Sebab berjalan beriringan bukan cuma soal rasa
Ada tuntutan ekonomi dan emosi yang harus dewasa
Ada tanggung jawab dan kerja sama yang digenggam
Serta ikatan janji yang tak boleh padam
Ketika jemari bertaut dalam sakralnya pernikahan
Hidupmu bukan lagi milikmu sendirian
Bukan lagi tempat ego dan kesenanganmu dimanjakan
Melainkan ruang bagi belahan jiwa yang Tuhan titipkan
Jangan biarkan keangkuhan merajai diri
Hingga mengabaikan ia yang setia di sisi
Setiap riak kecil dalam perjalanan hari
Harus dijembatani dengan tutur kata yang bersemi
Konflik dan badai pasti akan bertamu
Namun kuncinya ada pada jemari yang saling menjamu
Menyelesaikan luka dengan pelukan yang tenang
Bersama-sama menjaga agar rumah tak gersang
Pernikahan adalah dua manusia yang tak sama
Memilih melebur, merajut satu masa
Membangun istana yang telah lama dicita-cita
Dianyam dengan doa, peluh, dan air mata
Namun perpisahan bukanlah hal yang mustahil terjadi
Meski dulu pondasi dibangun atas nama cinta di hati
Tanpa komitmen, semua bisa hancur berserakan
Meninggalkan puing-puing kenangan yang menyakitkan
Dan yang paling berdarah dari sebuah perceraian
Adalah hati kecil anak yang tak mengerti apa-apa
Mereka tak pernah meminta untuk dilahirkan ke dunia
Namun harus menanggung hancurnya ego orang tuanya
16 Agustus 2026