Senandika Senja.
Karya: Anggun Cantika MaharaniPada petang yang muram, kususuri relung kenangan, tempat segala keliru pernah menabur lara. Dahulu, kesempatan datang laksana embun, namun jemariku terlalu angkuh untuk menadahnya.
Kini, namamu tinggal aksara yang mengendap di palung ingatan. Setiap malam, batin ini digerogoti sunyi, sementara sesal menjelma kabut di pelupuk waktu.
Seandainya masa dapat dipintal ulang, ingin kuubah diam menjadi pengakuan, ingin kutukar gengsi dengan ketulusan.
Namun cakrawala tak pernah memutar matahari ke belakang. Yang tersisa hanyalah getir, seperti bunga gugur sebelum sempat merekah, menjadi pengingat bahwa kehilangan lahir dari kelalaian yang tak termaafkan.
Palembang, 2 Oktober 2026