UNTUK KAU YANG TINGGAL DALAM KENANGAN
Karya: Depina AmeliaAda yang tak pernah benar-benar pergi,
meski kakinya telah jauh melangkah.
Ia tinggal — bukan di sini,
melainkan di dalam dada, yang sesak oleh ingatan yang tak pernah punah.
Aku memanggilmu dalam puisi-puisi yang tak selesai,
dalam lagu-lagu yang sengaja kuputar kembali.
Sebab di sanalah kau masih utuh,
masih menjadi rumah yang tak pernah runtuh.
Jika kenangan adalah laut,
maka akulah perahu kecil yang tak pandai menepi.
Sengaja kusesatkan diriku,
agar lebih lama hanyut di dalammu.
Aku masih ingat caramu menatap hujan,
seolah kau sedang berbicara dengan langit.
Caramu menyebut namaku pelan,
seolah takut jika terlalu keras, aku akan hilang.
Kini jarak menjadi guru yang paling kejam,
ia mengajarkan kita cara saling diam.
Namun di setiap diam itu,
ada namamu yang tetap kuucapkan, sebagai doa yang paling lirih.
Aku tidak meminta waktu untuk kembali,
aku hanya meminta hati untuk tetap berani mengingat.
Karena tidak semua yang hilang harus dicari,
beberapa memang harus disimpan, untuk dijaga sampai mati.
Dan jika pada akhirnya aku harus lupa,
biarlah lupa itu datang seperti senja:
perlahan, indah, dan tak menyakitkan.
Bukan seperti badai yang merenggut paksa.
Sebab kau bukan sekadar kenangan,
kau adalah alasan mengapa aku masih menulis.
---
Sukabumi, 05 Oktober 2026