Pareidolia
Karya: Fathir adilla HabibiMenahan pilu.
Rindu merasuki sukma dan kalbu.
Tatapan, senyuman, tawa dan canda menghantui pikiran.
Kenangan tak terlupakan, takkan kulupakan, meski tahun berganti tahun.
Dari cakrawala, surya perlahan menyapa. Senang bisa mengenalmu.
Andai jarum jam dapat berputar arah, akan kutulis jejak kisah yang baru.
Lembaran foto kusam masa muda.
Andai... andai semuanya dapat kuingat. Kenangan mesra, masa indah, masa kelam, suka maupun duka. Semuanya masih terpatri di dalam ingatan.
Bibir yang cerah, mata yang sayu berpadu dengan sifat yang teduh. Lalu dewasa hadir, membuat titik di sebuah cerita.
Kenangan menghasilkan masa, masa menghasilkan lara. Yang kurindukan bukan sekadar bayanganmu, melainkan kebaikan murni dari hatimu.
Setiap orang ada kenangannya, setiap kenangan ada orangnya. Walau susah untuk mengucap sayang, untuk kali ini aku mengucapkannya di lembaran penuh diksi ini.
Kutunggu kau di keabadian.
Medan, 2 Oktober 2026