Pelukis Langit
Karya: Bri Gracia ZebuaAku berdiri di bawah langitku sendiri,
Yang belum biru,
Masih abu-abu,
Masih penuh tanya yang menggantung.
Orang lain sudah punya peta,
Aku masih menggambar kompas dengan tangan gemetar.
Orang lain sudah berlari,
Aku masih belajar mengeja kata "berani".
Tapi aku tidak iri,
Karena langit ini milikku.
Aku bukan peramal masa depan,
Aku tidak tahu apakah esok akan hujan air mata lagi.
Tapi di saku celanaku,
Aku simpan dua benda kecil:
Satu bernama doa, yang tak pernah habis.
Satu bernama usaha, yang tak pernah mengkhianati.
Setiap pagi aku sapu keraguan,
Setiap malam aku peluk kegagalan,
Aku bilang padanya,
"Terima kasih sudah mampir, tapi jangan menetap."
Aku tahu, bintang tidak langsung terlihat,
Ia butuh malam yang paling gelap untuk bersinar.
Begitu juga aku,
Butuh hari-hari paling sepi ini untuk menemukan cahaya.
Maka jika kau tanya apa harapanku,
Harapanku sederhana:
Aku ingin tetap melukis,
Meski kuasnya patah,
Meski warnanya tumpah,
Meski langitku belum juga biru.
Karena aku percaya,
Suatu hari nanti,
Dengan tangan yang penuh luka ini,
Aku akan berhasil melukis satu pelangi kecil,
Dan berkata pada diriku yang dulu:
"Lihat, kita sampai juga."
Gunungsitoli, 2 November 2026