Karya: Adinda Dwi Maharani
Di ruang matamu yang senyap,
aku menemukan sebuah riwayat.
Bukan sekadar warna cokelat atau
hitam yang lelap,
namun semesta yang lahir tanpa
sempat berdebat.
Ada rahasia yang tidak bisa diringkas kata,
seperti amerta yang menetap di sela-sela waktu.
Aku adalah pengelana yang
kehilangan peta,
namun merasa pulang
setiap kali mataku bertemu matamu.
Dunia mungkin sibuk melipat usia,
menghapus jejak dan merobek kenangan.
Namun di matamu,
keindahan tak pernah jadi sia-sia,
ia abadi, tak tersentuh oleh
tangan perpisahan.
Aku cukup berdiri di sini,
di tepian pandang,
menikmati simfoni yang hanya bisa didengar hati.
Sebab bagiku, mengagumimu adalah sembahyang,
di mana waktu berhenti, dan kita menjadi abadi.
Jombang, 15 Juli 2026