Karya: Bambang Bian Satryo
Di malam yang dibalut kegelapan lembut,
bulan purnama bersinar tinggi di atas
atap rumahnya yang berdiri sunyi.
Sinarnya menerangi jendela kamar
di mana sebuah vas bunga mawar muda
diletakkan di atas meja kayu
sama seperti bunga yang tak pernah kusampaikan padanya.
Gadis itu berparas elok, laksana rembulan di kala purnama,
Rasanya manis-pahit saat dicicipi, bagai kopi di senja yang kelam.
Kata-kata yang sudah kubuat di dalam hati terjebak di tenggorokan,
seperti rasa yang tak semestinya ada
namun terus menyimpan diri dalam setiap detik waktu.
Tubuhnya mungil seperti kapas, aromanya wangi bak kasturi,
Namun, siapa gerangan nama lengkapnya, masih menjadi misteri.
Nama itu kubungkam lebih lama dari semua kata yang pernah kututurkan,
sebuah rahasia yang tak mampu dikeluarkan dari dalam dada yang sesak.
Rembulan menghampiri sang Purnama, berbisik lirih di antara bintang,
Memanggilnya dengan merdu dan tawa, menghiasi malam yang sunyi.
Kenangan tentang senyumnya dan suara tawanya selalu mengganggu ketenangan,
sebuah cinta yang tak mampu ditanggung dan tak punya tempat untuk diwujudkan.
Wajahnya cerah seperti cahaya bulan, menerangi hatiku yang sepi,
Andai ia tahu aku di sini, merajut rindu dalam setiap mimpi.
Rindu itu diam-diam menyusup ke setiap celah hidupku,
meskipun aku tahu ia tak akan pernah bisa diluapkan atau disampaikan dengan jelas.
Falenta Milandia,
Gadis yang sering dipanggil Alen itu,
Adakah kau tahu, hatiku telah terpaut padamu?
Bagaikan pungguk merindukan bulan,
Begitulah aku merindukanmu — duhai pujaan yang tak pernah terucap.
Brebes,15 mei 2026