Namamu Tinggal Paling Lama
Karya: Agistiana Putri RahmadhaniSebelas Oktober memadukan aksara kita,
lahir dari rahim waktu yang serupa.
Lewat gawai, kisah ini mula bercerita,
mengeja tawa di antara jarak usia.
Kau sembilan belas, memeluk dunia luas,
sedangkan aku dara belia yang lekas cemas.
Dahulu, suaramu di seberang telepon,
adalah rumah tempatku bernaung.
Namun kilas layar merekam jemarimu bersamanya,
mematahkan harapku dalam sunyi tak bertepi.
Delapan purnama meluruh dalam asing,
pintu hatiku rapat bagi singgah yang baru.
Sebab kau adalah kisah pertama yang bising,
memahat goresan paling dalam di dadaku.
Saat hadirmu kembali membawa rindu,
harapku mekar walau berakhir semu.
Kini netramu sekadar penonton bisu,
terjebak di balik dinginnya algoritma yang kaku.
Melalui sunyi, aku belajar mengagumi,
bahwa ketulusan tak selalu menuntut memiliki.
Sebab kala seluruh ingatan perlahan memudar,
namamulah yang tetap tinggal paling lama.
Banyumas, 19 Mei 2026