Salma Purnama Sari
Karya: Alfin SyahrinSalma,
palingkanlah sedikit wajahmu ke sana—
ke tengah Danau Maninjau yang tenang.
Kau lihat
setitik sunyi di atas batu itu?
Asal kau tahu,
itu seorang penyair gila
yang diam-diam
mengagumi namamu
dan mengubahnya
menjadi rumah bagi puisinya.
Namun,
Kau enggan
dan selalu merobohkan
pondasinya.
Purnama,
satu-satunya cahaya
yang membuat jauh
terasa nyata.
Kenyataan yang keji
berakhir pada ambisi
walau akan tetap berseri.
Sari,
bunga mana yang kaurampas wanginya?
Hingga seorang gila
ingin hidup
di dalam namamu.
Medan, 25 Mei 2026