Sunyi yang Memeluk Namamu
Karya: ADELIN STEVANIDulu, ketika pertama kali aku menatapmu,
sebuah kalimat kerap lahir dari bibirku,
"Bisakah aku memilikimu dan menggenggam tanganmu?"
Namun, kalimat itu tetap hidup dalam diam.
Sejak detik itu,
aku menyadari bahwa bunga mawar tak akan bisa tumbuh di air.
Begitu pula dirimu,
yang tak akan pernah bisa mencintaiku.
Namun, satu hal yang perlu engkau tahu,
sekeras apa pun hati yang telah engkau kunci,
aku jiwa yang berserah, tak akan pernah berhenti.
Di antara gelapnya langit malam dan lirihnya doa,
namamu akan kusebut di dalamnya.
Tak peduli seberapa lama aku menanti,
hanya satu harapku: melabuhkan hati ini padamu.
Mengagumi insan sepertimu mungkin terlihat sederhana,
namun banyak cerita yang menyertainya.
Bukan rasa takut akan kehilanganmu,
justru memiliki dirimu jauh lebih menakutkan,
apabila hati yang engkau miliki masih menyebut nama lain.
Trenggalek, 25 Mei 2026