Anugerah yang pernah singgah
Karya: Annida naya prananindityaAku mengagumimu
seperti malam memeluk sunyi
tanpa pernah meminta pagi tinggal lebih lama.
Namamu tumbuh perlahan
di antara riuh pikiranku,
menjelma cahaya kecil
yang diam-diam menenangkan segala gelisah.
Aku menyaksikanmu
seperti seseorang menatap hujan
dari balik jendela dekat di mata,
namun tak pernah benar-benar dapat disentuh.
Barangkali rasa ini
hanya diciptakan
untuk tinggal sebagai rahasia.
Tidak mengetuk,
tidak memaksa masuk,
hanya menetap pelan
di sudut hati yang paling sepi.
Aku tak ingin menjadi alasan
datangnya luka di hidupmu.
Maka aku memilih
mencintaimu dari jauh,
dengan cara paling sederhana:
menyebut namamu diam-diam
di dalam doa.
Sebab mengagumi,
kadang bukan tentang memiliki,
melainkan tentang belajar menerima
bahwa ada seseorang
yang begitu indah untuk dilupakan,
meski tak pernah ditakdirkan untuk digenggam.
Semarang, 19 mei 2026