Menjadi Jembatan yang Usai Diseberangi
Karya: ISWA TIARA PUTRIDulu, aku adalah telinga bagi setiap keluhmu,
tangan yang buru-buru mengusap air matamu,
dan rumah pertama tempat kalian menaruh lelah.
Semua peluh dan ketulusan kupatahkan sendiri,
hanya agar lingkaran pertemanan kita tetap utuh berjalan.
Namun, panggung berganti dan riuh kalian meninggi.
Saat tawa baru kalian rakit bersama kelompok itu,
tubuhku mendadak menjelma orang asing yang tak kasat mata.
Seluruh payung yang pernah kubuka di tengah badai kalian,
kini menguap, benar-benar telah terlupakan tanpa bekas.
Aku hanyalah jembatan kayu yang kini lapuk;
ditinggalkan begitu saja setelah kalian sampai di seberang.
Kebaikan yang dulu diagungkan, kini runtuh ditimbun abai.
Ternyata, merawat ketulusan di tanah yang salah,
hanya akan memanen asing yang paling berdarah.
Sawang, 19 Mei 2026