annisa najla nashifah - Pernah Menjadi Rumah (LCP 46)

📅 31 Mei 👁 Memuat...

Pernah Menjadi Rumah

Karya: annisa najla nashifah


Aku pernah duduk di antara tawa,
di antara cerita yang tak pernah habis dibagi bersama.
Ada nama-nama yang dulu terasa rumah,
namun kini hanya tinggal gema.
Dulu, kita saling mencari
bahkan untuk hal kecil di pagi hari.
Sekadar bertanya, “udah makan belum?”
atau tertawa tanpa alasan sebelum senja turun.
Tapi waktu ternyata pandai berubah,
membawa dekat menjadi asing perlahan-lahan.
Aku masih mengingat mereka seperti biasanya,
sementara aku mulai hilang dari ingatan mereka.
Tak ada pertengkaran,
tak ada kata perpisahan.
Hanya jarak yang tumbuh diam-diam,
hingga akhirnya aku sadar…
aku sedang tertinggal di belakang.
Kadang aku membuka kembali pesan lama,
membaca ulang canda yang kini terasa berbeda.
Aku tersenyum kecil,
meski hati diam-diam terasa ganjil.
Apakah aku benar-benar pernah berarti?
Atau hanya singgah sebentar dalam cerita mereka sendiri?
Sebab sekarang, saat mereka tertawa bersama,
namaku tak lagi ada di sana.
Aku rindu dipanggil seperti dulu,
rindu dianggap penting tanpa perlu meminta.
Namun hidup berjalan tanpa menunggu,
dan sahabat pun bisa berubah menjadi kenangan yang fana.
Meski begitu,
aku tidak membenci mereka.
Karena beberapa orang hadir bukan untuk selamanya,
melainkan untuk mengajarkan bahwa kehilangan
tak selalu harus disertai perpisahan.
Dan malam ini,
aku belajar satu hal sederhana—
yang paling menyakitkan bukan dilupakan oleh dunia,
melainkan dilupakan oleh orang
yang dulu pernah memanggilmu sahabat.


bogor, 1 juli 2024