Karya: Devin Ardhi Saputra
Derasnya hujan tak menghalangi langkahku.
Hujan lebat dan petir tidak membuatku takut.
Setiap langkah di tengah basahnya jalanan menjadi saksi,
betapa sakit dan sedihnya perasaanku saat ini.
Demi menjadi payung yang menahan derasnya hujanmu,
aku membiarkan tubuhku sendiri kuyup dan membeku.
Hingga saat kaureda dan melangkah pergi berlalu,
aku lupa bagaimana cara merawat diriku yang dulu.
Di bawah atap langit yang kini mulai cerah,
kutatap telapak tanganku yang masih terasa beku.
Bekas air mata yang menyatu dengan hujan,
seakan menegaskan betapa murah harganya pengorbanan.
Merakit kepingan hati yang kau biarkan terserak,
karena hidup tak bisa selamanya menjadi payung,
dan aku berhak untuk tak lagi merasa dungu.
Biarkan hujan ini membersihkan sisa jejakmu,
sebelum aku benar-benar lenyap ditelan egoismu.
Padang Pariaman, 23 Mei 2026