Karya: Dimas Prasetyo
Di malam yang hening, diriku terbaring
Di atas kasur yang keras nan dingin
Dengan air mata yang terus mengalir
Dan rasa penyesalan yang tak kunjung berakhir
Betapa bodohnya diriku, yang telah membuangmu
Sedangkan dulu engkau selau memelukku
Tanpa kusadari, uluran tangan kecilmu
Telah membantuku selama ini
Tanpa kusadari, perhatianmulah
Yang menenangkan hati ini
Butuh waktu yang sangat lama untuk memahami
Bahwa dirimulah satu-satunya yang peduli
Dulu aku merasa risih dengan wajahmu
Namun kini, itulah yang kurindukan
Kucoba mengingat setiap bentuk wajahmu
Namun hanya senyumanmulah yang kudapatkan
Senyuman yang hadir setiap kau menolongku
Kini aku tak bisa mengingat ragamu
Terlupakan, bagai kerikil yang dibuang di laut dalam
Egoku, membunuhku perlahan-lahan
Kini aku sekarat tanpa adanya teman
Tampawulu, 21 Mei 2026