Karya: Firda Aisyah
Jauh telah terukir samudra di antara kita.
Tiada lagi asa untuk bersua.
Semua raib ditelan denai waktu.
Istana yang megah, kini tinggal puing debu.
Dulu kita bertakhta di istana yang sama,
bersandar pada sunyi yang sama-sama hangat.
Tapi kini singgasana itu merekah,
runtuh bukan oleh badai atau perang,
melainkan oleh bisikan yang lahir dari rusuk kita sendiri.
Andai...
Dulu kita tak melontarkan kata itu.
Kata yang lebih tajam dari belati,
lebih dingin dari kabut fajar.
Pasti hingga detik ini jemari kita masih bertaut,
tubuh ini masih merasakan hangat pelukan yang tak pernah minta pulang.
Andai aku tahu sebutir aksara itu
meluluhlantakkan jagat,
akan ku kubur segala luka di dasar kalbu,
akan ku telan habis sisa harga diri,
hanya demi masih mendengar gemericik tawamu di ruang ini.
Namun...
Semua telah pupus menjadi duka.
Andai hanyalah burung yang tak pernah hinggap.
Maaf tak sanggup memutar waktu.
Kita binasa bukan karena jarak atau lupa,
tapi satu kata, yang tak semestinya terucap,
kini bersemayam jadi sepi yang tak bertepi.
Dan tak akan terlupakan.
Sinabang, 20 Mei 2026