Karya: Firdha Azzahra
Namamu tak pernah mati;
ia hanya berpindah ruang
ke sela doa yang tak selesai kuucap
malam demi malam.
Rumah ini masih berdiri,
tetapi dinding-dindingnya
menyimpan dingin
seperti makam yang lupa ditutup.
Aku memakaikan sunyi pada tubuhku,
bagai gaun berkabung yang menjuntai hingga jiwa.
Ibu yang dahulu menuntunku mengeja
kasih, menjelma hujan hitam di nadiku sendiri.
Maka jangan sebut aku lupa.
Aku hanya menelan kebenaran seperti racun
yang diajari hidup perlahan.
Dua anak kita tidur
dengan wajah yang masih menyerupai
musim sebelum petaka.
Aku berjaga, tak karena berani,
melainkan takut sejarah
mengenali darah yang sama.
Namamu tak terlupakan;
yang perlahan pudar justru suaraku.
Bulan yang tetap ada,
namun dibiasakan gelap
agar malam tampak damai.
Jakarta, 22 mei 2026