Karya: Firna
Aku tak berani menatap langsung,
Aku tak berani menyebut namamu terang-terangan.
Maka kutadah matamu dalam sunyi lewat aksara,
Setiap huruf yang kau susun
Menjadi hujan kecil yang membasahi ruang sepi.
Setiap kata adalah kedipan yang kau sembunyikan,
Setiap jeda adalah tarikan napas yang kutunggu.
Aku membaca diam-diam, mengumpulkan rindu,
Seperti anak kecil mengumpulkan bintang yang jatuh.
Mungkin kau tak pernah tahu
Bahwa puisi ini lahir dari tatapan yang tak jadi,
Dari kagum yang hanya berani hidup di kertas,
Tentang mata yang kucuri lewat kata.
Biarlah kagum ini tinggal di kertas.
Tak perlu kau tahu, tak perlu kau balas.
Cukup aku yang tahu
Bahwa aku pernah mencuri semesta dari matamu,
Dan menyimpannya abadi lewat kata.
Mosolo, 20 Mei 2026