Karya: Gayunk Kirana Daniswara
Kurasa diriku bagai berdiri di tengah hutan seribu wana,
Pohon-pohon tinggi menjulang menutup sinar Arunika,
Membawa kelam menyelimuti segenap penjuru.
Pada satu Ātmā itu,
Aku berhutang berjuta kata pengampunan.
Aku sadar, luka yang kau pikul adalah sebab diriku.
Namun, apalah daya hamba, yang hanyalah manusia biasa,
Terbawa nafsu dan kurang waspada.
Terlalu gegabah aku melangkah memilih jalan,
Tanpa menengadah, tak memandang rintangan yang menanti di depan.
Padahal, telah kau berikan isyarat dan petunjuk.
Terlalu cepat kakiku bergerak,
Tanpa memikirkan ke mana akhir akan membawa.
Seharusnya aku tetap berlabuh di sini,
Di sisimu, bersamamu.
Walau jalan bertebar duri dan paku tajam,
Setidaknya hatiku damai dan aman bila ada kau di sampingku.
Namun… apalah dayaku.
Bagaikan peribahasa, nasi telah menjadi bubur,
Aku tak kuasa memutar kembali roda takdir ke garis mula.
Bahkan, tiada pantas kiranya aku memohon mengulang segala yang berlalu.
Hanya satu hal yang ingin kusampaikan:
Diketahuilah olehmu,
Jiwa yang rapuh ini tengah merindu dan membutuhkanmu.
Kembalilah…
Seperti baris indah dari Cincin Hindia:
"Kita hampir mati dan kau selamatkan aku,
Dan ku menyelamatkanmu,
Dan sekarang aku tahu,
Cerita kita tak jauh berbeda."
Sekarang hanya doa yang sanggup kusampaikan ke angkasa,
semoga takdir kembali menautkan kita dalam satu jalan.
Meski waktu tak bisa diputar ulang,
kuharap kasih ini takkan pernah pudar,
tetap abadi bersemayam di sanubari,
hingga nanti… kita bertemu lagi.
Surabaya, 15 Mei 2026