Epitaf Jelaga
Karya: HERU SUMARNO, S.S., Gr.Namaku mengelupas dari semen cuaca yang basah,
semacam mantra patah di tenggorokan langit.
Orang-orang lewat menetaskan langkah asing,
dan pintu-pintu karat menelan jejak kepulanganku.
Jam malam berdetak di dada yang retak,
mengunyah sunyi sampai suara kehilangan tubuhnya.
Di meja makan, sendok-sendok dingin terbaring
seperti tulang yang lupa kepada mulut manusia.
Kota ialah etalase lapar yang mengunyah malam,
wajahku hanyut, larut di parit cahaya neon.
Aku tinggal sisa ketukan di dalam arloji mati,
kertas buram dari musim yang perlahan membusuk.
Jelaga pabrik menulis namaku di seng atap rumah,
lalu mengikisnya sebelum fajar sempat membaca.
Kini aku hidup sebagai napas tanpa nisan—
nama yang pulang, tetapi tak menemukan kematian.
17 MEI 2026