Embun Terakhir
Karya: MUHAMAD ALFIANSAHKau bergerak bagai tarian angin yang menyapu
lembut,
membawa riang yang seolah mampu
menghapus segala duka di dunia.
Wulan,di balik kecerdasanmu yang tajam,ada
mimpi besar yang kau peluk,
menjadi lentera yang rela membakar diri,demi
menghalau gelap di kepala anak-anak
negeri.
Jika diibaratkan,
engkaulah nilai π,
sebuah kesempurnaan tak terhingga yang tak
pernah habis dieja.
Dan jika paras serta jiwamu dihitung dengan
golden ratio,
semesta akan sepakat,
bahwa keteraturan dan keindahanmu adalah
rumus paling presisi yang pernah diciptakan
Tuhan.
Namun di balik binar kecerdasan itu, ada
mendung yang kau sembunyikan,
sebuah cerita percintaan yang layu dan
menyisakan retak di hatimu.
Kau tampak begitu kuat merawat luka itu
sendirian di sela belajarmu,
membuat langkahmu terasa semakin magis
sekaligus memilukan.
Saat aku terhanyut,
mengunci seluruh pandanganku pada hitungan
estetikamu,
selembar pintu mendadak merapat dan
memutus takdir tatapan kita.
Aku gagal pandang, kehilangan bayangmu
dalam satu kedipan saja,
terhalang kayu mati yang memisahkan aku dari duniaku.
Kau adalah embun terakhir yang luruh di
penghujung fajar,
sosok pintar dengan jiwa pendidik yang
meneduhkan jiwa yang gersang.
Meski pintu telah tertutup, kau tetap menjadi
sang pembawa pelita yang paling memikat.
Bandung, 14 Mei 2026