Aksara Asmaraloka
Karya: Nanda AgustiaAda teduh yang sempat kunaungi,
layaknya payung tempat kita berlindung kala itu.
Aku tak sempat berucap pada hujan
betapa aku kagum padamu.
Nama yang tak benar-benar hilang
masih terpaut di langit pikiranku.
Sunyi bukan berarti aku tak menyukaimu,
sebab di sebalik kertas yang keruh
kutuliskan rupawanmu.
Kau adalah kala dalam setiap damba.
Entahlah, aku terlalu gundah berkata “iya”.
Sungguh, aku ragu meletakkan hati yang rapuh.
Aku hanya penonton,
layaknya senja yang perlahan reda.
Tuan, apakah hanya aku yang terpikat rasa?
Pria pencinta hujanku, bagaimana rasamu padaku?
Kau layak menjadi sajak
yang belum tuntas kubaca.
Aku tak ingin merasakan nestapa,
namun tak juga ingin beranjak.
Kan kunikmati rasa ini.
Dengan tenang kulemparkan asa pada Yang Maha Kuasa.
Biarkan aku berisik dalam setiap sujudku.
Tuan, sungguh aku kagum padamu.
Medan, 16 Mei 2026