Ni Kadek Lily pradnyandari putri - Terlupakan di ujung kenangan (LCP 46)

📅 20 Mei 👁 Memuat...

Terlupakan di ujung kenangan

Karya: Ni Kadek Lily pradnyandari putri


Aku pernah tinggal
di ruang paling hangat dalam hidupmu,
menjadi alasan senyummu hadir
setiap pagi membuka hari.
Namaku pernah kau sebut
dengan suara paling lembut,
seolah dunia tak akan mampu
memisahkan langkah kita sedikit pun.
Namun waktu berjalan diam-diam,
menghapus jejak tanpa suara.
Percakapan yang dulu panjang
perlahan menjadi singkat,
hingga akhirnya hilang
seperti debu yang diterbangkan.
Kini aku hanya seseorang
yang lewat di ingatanmu
tanpa kau sadari.
Seperti lagu lama
yang pernah kau sukai,
tetapi tak lagi kau putar
saat hati sedang sepi.
Aku masih mengingat semuanya,
tentang tawa kecil di sudut hari,
tentang janji yang pernah tumbuh
di antara mimpi-mimpi muda,
dan tentang mata itu
yang dulu memandangku
seolah aku rumah tempat pulang.
Tetapi sekarang,
aku hanyalah bayangan
yang tertinggal di belakang langkahmu.
Kau berjalan begitu jauh,
sedangkan aku masih berdiri
di tempat kenangan terakhir
kita saling menggenggam harapan.
Kadang aku bertanya pada malam,
mengapa seseorang bisa berubah
secepat hujan reda.
Mengapa rasa yang dulu dijaga
akhirnya dilepaskan begitu saja.
Apakah aku memang mudah dilupakan,
atau hatimu memang telah menemukan
cerita baru yang lebih membahagiakan?
Aku mencoba ikhlas,
meski kenyataannya tidak mudah.
Sebab melupakanmu
ibarat memadamkan langit
yang terus menyala di kepala.
Namamu masih tinggal
di setiap lagu sendu,
di setiap hujan yang turun perlahan,
dan di setiap sunyi
yang datang saat dunia tertidur.
Andai suatu hari nanti
kau kembali mengingatku,
mungkin aku sudah berubah
menjadi seseorang yang lebih kuat.
Namun satu hal yang tak akan berubah:
aku pernah tulus menjagamu
meski akhirnya
aku menjadi bagian
yang paling mudah kau lupakan.
Kini aku belajar memahami,
bahwa tidak semua yang datang
akan menetap selamanya.
Ada yang hadir hanya untuk singgah,
mengajarkan arti kehilangan,
lalu pergi meninggalkan luka
yang perlahan harus disembuhkan sendiri.
Dan bila nanti
kau melihatku tersenyum lagi,
itu bukan karena aku sudah lupa,
melainkan karena aku akhirnya sadar
bahwa hidup tidak boleh berhenti
hanya karena seseorang memilih pergi.
Meski terlupakan,
aku tetap pernah menjadi cerita.
Pernah mencintai dengan sungguh-sungguh,
pernah berharap dengan sepenuh hati,
dan pernah bertahan
meski akhirnya sendiri.
Karena terkadang,
yang paling menyakitkan bukanlah perpisahan,
melainkan menyadari
bahwa seseorang yang dulu menganggapmu berarti
akhirnya mampu hidup bahagia
tanpa lagi mengingat keberadaanmu.


Denpasar,20 may 2026