Yang Terlupakan Tidak Pernah Pergi
Karya: PAULA SARDONA MBANADi sudut waktu yang retak,
ada namamu tergeletak—
bukan hilang, hanya sengaja dilupakan
oleh ingatan yang lelah menjadi rumah.
Aku pernah menanam tawa di matamu,
lalu memanen luka dari diam yang tumbuh pelan.
Kita adalah musim yang salah membaca cuaca,
tertawa di tengah hujan,
lalu menangis saat pelangi datang terlambat.
Ada hari-hari yang hangat seperti bahagia kecil—
ketika namamu kusebut tanpa takut pecah,
ketika dunia tidak terasa asing,
dan aku tidak merasa seperti bayangan sendiri.
Namun malam selalu punya cara
menyulap kenangan jadi misteri:
suaramu berubah gema,
wajahmu jadi kabut,
dan aku bertanya—
apakah aku pernah benar-benar ada di ceritamu?
Kau seperti buku tanpa akhir,
halaman-halamannya hilang di tangan waktu,
dan aku pembaca yang tersesat
di antara kalimat yang tak selesai.
Kadang aku ingin melupakanmu sepenuhnya,
seperti kota menelan jejak kaki hujan—
tanpa sisa, tanpa cerita.
Tapi kenangan adalah makhluk bandel,
ia hidup dari hal-hal kecil:
lagu lama, bau tanah basah,
atau cara seseorang tersenyum seperti dirimu.
Aku tidak tahu siapa yang lebih kejam—
waktu yang menghapus,
atau hati yang berpura-pura lupa.
Karena pada akhirnya,
yang terlupakan tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya bersembunyi
di tempat paling sunyi dalam diri,
menunggu satu momen rapuh
untuk kembali hidup
tanpa permisi.
Ledalero, 28 juni 2026