Memori Sang Perindu
Karya: Qaila Amara Syakiraketahuilah, kita begitu sempurna
dalam ketidaksamaan rasa.
senja memang luar biasa indahnya, namun singkat.
matahari terbenam begitu memikat, namun sayangnya ia sesaat.
dari sekian banyak warna yang kau tuangkan,
hanya kelabu yang menetap —
warna yang paling tak kusuka.
seolah kau berbisik dengan nuraga,
penuh diksi yang mengatakan kau menolak.
seakan terombang‑ambing di kapal yang kita bangun bersama.
salahku dari awal: aku tahu aku tak bisa berenang,
tapi bodohnya aku, aku berharap kau akan menyelamatkanku.
dan sebelum kata “pergi” menjadi topik yang paling kau cari,
perlu kau ketahui:
bukan hanya namamu yang abadi,
tapi kau,
kau dan seluruh kenanganmu bersamaku
saat hujan menghempas perahu yang kita rangkai.
kita indah meski di langit yang berbeda.
seandainya kau bintang dan aku bulannya,
kita masih bisa bersama setidaknya satu malam.
tapi sayangnya, kau adalah matahari.
dan kini, semua hanya puing yang terlupakan dari buana,
namun tak pernah hilang dalam saku ingatan sang perindu.
Palembang, 19 Mei 2026