NamaMu pernah hadir namun perlahan terhapus oleh waktu
Karya: Sulfanita OldaAku perlahan melupakan dia, seorang lelaki tampan, manis, dan badannya kekar,
senyumannya seakan membuat duniaku tumbuh dengan bunga bermekaran di ujung jalan.
Namun waktu berjalan tanpa menoleh ke belakang,
membawa jejak langkah kita semakin samar di ingatan.
Percakapan kita yang dulu hangat kini tinggal gema,
dirinya yang sering menelpon ku, mengambang di ruang hati yang mulai sunyi.
Namamu pernah singgah di pikiranku dan hatiku setiap pagi,
seperti cahaya lembut yang menembus tirai harapan, harapan akan terus bersamaMu kekasihku.
Kini, namamu hanya datang sesekali,
lalu pergi bersama angin tanpa berpamitan yang tak sempat kugenggam.
Aku belajar merapikan kenangan bersamaMu,
menyimpannya dalam kotak rindu yang perlahan berdebu.
Bukan karena aku tak peduli,
melainkan karena hati perlu berdamai dengan kenyataan.
Perjalanan yang pernah kita rajut bersama,
kini seperti tulisan di pasir yang disapu ombak waktu.
Tak ada lagi jejak yang bisa kubaca,
selain rasa yang pernah tumbuh diam-diam.
Mungkin begitulah cara waktu mengajarkan,
bahwa tidak semua yang hadir akan tinggal, dan rasanya seperti jiwa yang perlahan menghilang.
Dan tidak semua yang indah akan abadi,
selain pelajaran kisah tentang kita melepaskan dengan ikhlas.
Seandainya dirimu nanti kembali dan mencariku, aku hadir menemaniMu, mendengarkan keluh kesahMu, namun tidak untuk kembali bersamaMu menjalani hubungan yang dulu lagi.
Kuharap diriMu bahagia bersama pilihanMu sekarang, dan jangan pernah membawa luka itu ke orang yang kamu temanin saat ini.
Kisah kita yang indah akan aku simpan dengan rapih dan tidak akan aku buka kembali halaman itu untuk menutupi kerinduan ini.
Nggorang, (Asrama), 18 mei 2026