Karya: Wahyu Widiasty Ningrum
Wajah itu, lukisan terang di mataku
Tawamu, adalah jejak musim di pipi
Suaramu, bagai angin lembut yang singgah
Indah, kau semesta yang kupuja
Tanpa celah, utuh tak tersentuh retak
Bersamamu, waktu luruh tanpa ujung
Kata yang keluar dari bibir manismu
Kata yang kunanti setiap denyut waktu
Kata yang tak membawa arti, namun menenggelamkanku
Hanya sebagai alasan mendengar suaramu
Hanya riak kecil di sunyi yang kita pelihara
Hanya penawar bagi rindu yang tak pernah berpulang
Denganmu, aku berlayar di lautan tak berpeta
Ingin kugenggam tanganmu
Namun jemariku terikat pada tangan lain
Sementara jemarimu mencari tangan yang bukan aku
Kisah kita tak pernah diberi ruang oleh semesta
Aku mengagumimu diam, tenggelam, tanpa pernah kembali
Terkadang benci kupasang sebagai perisai rapuh
Namanya menggema, nyaring memecah dadaku
Dari tangan yang ingin kautuju
Anganku tersesat di balik kabut
Ingin kuselipkan bisikan ke relungmu
Maukah kau meredam nama itu?
Maukah kau hanya tinggal denganku?
Bogor, 15 Mei 2026