Margasira berkarat
Karya: Addin Tsana NabilahAku tak berdaya menjalani hari.
Meyakinkan diri menuju gelanggang semai,
Tempat yang seharusnya untuk memburu aksara, justru menjadi bumerang.
Belati lidah terus saja memburu, kemana ku melangkah,
Akan disambut netra berpendar culas.
Aku bersiap memasuki tempat penuh retorika itu,
Aku membeku, bibir melekat padat,
Tubuh terasa panas dan sesak.
Aku bermonolog batin, berbicara pada bayang,
Apa kamu sungguh diam karena pudar nyali?
Diam hingga panggung selesai, ku meyakinkan diri,
Bahwa aku tetap kokoh, ingatan itu hanya sampah yang seharusnya dibuang.
Namun aku salah bagiku yang merupakan perajut sunyi terus saja menafsirkan belati lidah itu,
Dalam banyaknya pertanyaan riuh di kepala.
Aku berharap pergi dari kawasan ini.
membuka lembaran baru, menjalani hal sederhana.
Ya, menjalani hari di gelanggang semai dengan tenang.
Harapan telah terwujud,
Namun aku melangkah karat, karena aku sang anak malam.
Mengalami hal terulang, harapanku sirna lagi-lagi aku dihujam belati lidah,
Panggung retorika muncul kembali.
Banyumas, 24 juni 2026