Doa yang Pulang sebagai Bahagia
Karya: SITI NUR HALIPAHDi sepertiga malam yang paling sunyi,
kutitipkan luka pada langit-Mu.
Air mata menjadi bahasa yang tak bersuara,
sedang hatiku mengetuk pintu rahmat-Mu.
Hari-hari berlalu seperti musim,
membawa ragu yang tumbuh perlahan.
Namun aku tetap menanam harap,
di tanah sabar yang tak pernah kutinggalkan.
Ada doa yang tak segera mekar,
seperti benih yang diam di perut bumi.
Tak terlihat oleh mata yang menunggu,
namun diam-diam sedang tumbuh sendiri.
Sering kali aku bertanya pada waktu,
mengapa jalan ini begitu panjang.
Sedangkan yang lain telah sampai dahulu,
dan aku masih bergelut dengan kehilangan.
Lalu Kau kirimkan fajar yang lembut,
setelah malam yang terasa abadi.
Menyentuh jiwaku yang hampir runtuh,
dengan cahaya yang sulit kujelaskan lagi.
Satu per satu pintu mulai terbuka,
seperti bunga yang mengenal musimnya.
Apa yang dahulu hanya kutulis dalam doa,
kini hadir nyata di hadapan mata.
Aku menangis bukan karena sedih,
melainkan karena takjub pada kuasa-Mu.
Betapa indah cara-Mu merangkai takdir,
jauh lebih indah dari inginku dahulu.
Kini aku mengerti arti menunggu,
bukan sekadar menahan waktu berlalu.
Melainkan belajar percaya sepenuhnya,
bahwa Kau tak pernah salah menentukan sesuatu.
Doa-doa yang pernah kusangka hilang,
ternyata tersimpan rapi di langit-Mu.
Menunggu saat terbaik untuk kembali,
sebagai jawaban yang menghangatkan kalbu.
Maka jika hari ini aku tersenyum,
itu karena kasih-Mu yang tak bertepi.
Sebab doa yang terlahir dari luka,
akhirnya pulang sebagai kebahagiaan sejati.
Garut, 25 Juni 2026