Beku di ujung nama mu
Karya: Agustina safka ramadhaniLangit menetes tanpa suara,
tubuhku jadi danau bisu.
Kau pergi,
dan semua musim berhenti di musim kau.
Janji yang kau tanam
tumbuh jadi duri di dada.
Setiap kali jantungku meniup,
darahku meneteskan namamu.
Aku bukan lagi aku,
hanya reruntuhan yang hafal caramu tersenyum.
Malam jadi panjang,
karena siangmu tidak pernah kembali.
Waktu?
Ia hanya memahat luka
agar lebih dalam,
bukan agar sembuh.
Kau bilang abadi.
Ternyata abadi itu
dinginnya kehilanganmu
setiap detik,
tanpa jeda.
---
Palembang,31 maren2026