Di Antara Amin dan Ikhlas
Karya: Angelina Puan BanaidiaDi hadapan langit yang selalu diam,
aku menyebut namamu tanpa suara.
Bukan karena Tuhan tak mampu mendengar,
melainkan karena hatiku terlalu rapuh
untuk mengakui betapa besar rasa itu.
Aku pernah menitipkan harapan
pada setiap doa yang kupanjatkan,
berharap semesta perlahan membawamu pulang.
Namun waktu mengajarkanku,
bahwa tidak semua yang diperjuangkan
ditakdirkan untuk dimiliki.
Maka biarlah namamu tetap tinggal
di antara amin yang tak pernah selesai,
menjadi rahasia yang hanya diketahui
oleh malam, air mata, dan Tuhan.
Jika suatu hari kau bahagia
bersama seseorang yang bukan aku,
izinkan aku tetap tersenyum,
sebab mencintaimu tak pernah tentang memiliki,
melainkan tentang mendoakanmu,
meski doaku tak pernah sampai kepadamu.
Dan bila kelak Tuhan bertanya
mengapa aku begitu lama menunggu,
akan kujawab pelan,
"Karena ada cinta yang terlalu tulus untuk dipaksa,
dan terlalu dalam untuk dilupakan."
Akhirnya aku mengerti,
ada doa yang memang tak ditakdirkan menjadi kenyataan.
Bukan karena Tuhan tak mendengar,
melainkan karena kasih-Nya selalu tahu
jalan terbaik bagi setiap hati yang belajar mengikhlaskan.
Labuan bajo, 29 juni 2026