Arsip Kata-Kata Mati
Karya: Muhammad Hilbram SyaddamDi antara gigi-gigi yang rapat,
terdapat pemakaman massal bagi kata-kata.
Kita mengubur harapan di sana,
tanpa nisan, tanpa doa,
hanya tumpukan debu yang disebut "nanti".
Kau duduk di sana,
sepatutnya menjadi jawaban atas segala tanya,
namun kau memilih menjadi teka-teki
yang tak pernah ingin kupahami.
Seperti pintu raksasa yang menjulang tinggi,
ia tampak terbuka lebar,
namun kakiku terlalu berat untuk melangkah,
atau mungkin, ruang di baliknya sudah lama kosong.
Harapan yang tak tersampaikan bukanlah tragedi,
ia hanyalah bukti bahwa kita masih hidup
di dunia yang terlalu bising untuk mendengar bisikan jiwa.
Biarkan ia mati di ujung lidah.
Karena realita paling pahit bukan pada penolakan,
melainkan pada kesadaran bahwa
beberapa hal memang ditakdirkan
untuk tetap menjadi asing,
meski telah kita kenal seumur hidup.
Kuala Tungkal, 29 Juni 2026)